Prinsip Pengolahan Limbah Organik

Prinsip Pengolahan Limbah Organik sebagai kelanjutan pembahasan sebelumnya "Limbah Organik Basah dan Limbah Organik Kering".  
Pembahasan yang sama dalam artikel ini :
Prinsip Pengolahan Limbah Organik,
pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos,
pengolahan limbah organik dan anorganik,
makalah pengolahan limbah organik,
cara pengolahan limbah organik,
contoh pengolahan limbah organik,
pengolahan limbah organik basah



Prinsip Pengolahan Limbah Organik

Pengolahan limbah organik memerlukan
pengetahuan yang memadai, agar dalam
pemanfaatannya tidak menghasilkan limbah baru
yang justru semakin menambah permasalahan dalam
kehidupan. Paling tidak limbah hasil daur ulang
ini dapat dikelola dengan efisien dan efektif agar
sampah yang dihasilkan dari proses pemanfaatan
ini dapat diminimalisir. Berikut ini adalah prinsipprinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan
sampah. Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama
3R, yaitu:

Prinsip Pengolahan Limbah Organik


1. Mengurangi (Reduce)

Meminimalisir barang atau material yang kita
pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan
material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

2. Menggunakan kembali (Reuse)

Pilihlah barang-barang yang bisa dipakai
kembali. Hindari pemakaian barang-barang
yang sekali pakai, lalu buang.

3. Mendaur ulang (Recycle)

Barang-barang yang sudah tidak berguna
didaur ulang lagi. Tidak semua barang bisa
didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak
industri kecil dan industri rumah tangga yang
memanfaatkan sampah menjadi barang lain
contohnya kerajinan.
Upaya melaksanakan mendaur ulang limbah
(Recycle) menjadi karya kerajinan tangan, berarti
sudah dapat mengatasi masalah lingkungan yang
mengganggu kehidupan. Selain itu dapat pula
dimanfaatkan sebagai wadah penyaluran hobi
keterampilan, kreatifitas, dan menumbuhkan jiwa
wirausaha.

Mendesain sebuah produk kerajinan sangat
bergantung pada tujuan, metode, dan kegunaan
praktis yang terjalin harmonis dan selaras. Semakin
tajam keharmonisan dan keselarasan antar konsep
tersebut maka semakin tepat hasil yang diharapkan.
Seperti kata pepatah dari para tokoh desainer kaum
formalis tahun 1800-an “ Design is to design a design
to produce a design”. Desain adalah sebuah mekanisme
yang mendorong, mengolah, mensintesa lahirnya
sebuah dimensi kepraktisan.
Penggunaan bahan limbah untuk didesain menjadi
sebuah produk kerajinan tidak semudah perkiraan
orang. Kita perlu mengetahui dan memahami prinsip
dasar yang membangun kesadaran bahwa mendesain
bahan limbah adalah merupakan proses menata ulang
kebermanfaatan dari sebuah produk yang telah hilang
nilai gunanya. Seharusnya sebuah desain bersifat
berkelanjutan (sustainable design), tidak hanya cukup
secara ekonomi saja, tetapi harus mengintegrasikan
isu-isu lingkungan, sosial, dan budaya ke dalam
produk. Hal ini disebabkan agar desain lebih dapat
bertanggung jawab dalam menjawab tantangan
global. Begitu juga seorang desainer produk harus
memahami pentingnya pemahaman ini.
Penjelasan hal di atas dikemukaan oleh Victor
Papanek dalam bukunya yang berjudul ‘Design for the
Real World’ bahwa ada 6 tata kelola desain berkelanjutan
(sustainable design) yang tidak berdiri sendiri namun
mempunyai elemen-elemen lain yang merajutnya,
yaitu :

 

Tata Kelola Desain Pengolahan Limbah Organik


1. Metode (method)

Konsep method diulas dalam 2 pandangan
yaitu, episteme dan techne. Episteme adalah
pengetahuan yang melibatkan daya serap,
imajinasi, dan abstraksi. Sedangkan techne
adalah keteknikan atau keterampilan bertukang.
Desain sangat dipengaruhi oleh penguasaan
alat, pemahaman terhadap material, dan
bagaimana keduanya berinteraksi menjalin
kepekaan melalui daya serap, imajinasi dan
abstraksi agar dapat terjalin dari proses
pembuatan hingga melahirkan produk
yang artistik. Hal ini dapat dihasilkan
melalui kegiatan yang rutin dan intensif.

2. Asosiasi (association)

Kemampuan menghubungkan antara
gagasan dengan kemampuan panca-indra
dengan menggunakan gambar, bagan,
tulisan, dan sebagainya.

3. Estetika (aesthetics)

Dalam mendesain perlu memahami
estetika/ilmu keindahan yang diwujudkan
dalam unsur desain; garis, warna, bentuk,
volume, dan tekstur, serta prinsip desain;
kesatuan, keseimbangan, point of interest,
irama, proporsi dan komposisi. Desain
harus dapat memadukan kesemuanya
dalam penciptaan karya.

4. Kebutuhan (need)

Karya desain merupakan jawaban dari
sebuah kebutuhan. Merumuskan kebutuhan
bukanlah sesuatu yang mudah. Desainer
harus memiliki kepekaan yang tajam untuk
memilah apa yang menjadi kebutuhan
konsumen dan kemungkinannya untuk
menjadi tren di masanya.

5. Telesis (telesis)

Pemahaman fungsi yang mengubah
desain dari sesuatu yang sifatnya personal
menjadi lebih komunal. Telesis adalah
fungsi desain yang berusaha mewadahi
dimensi sosial dan budaya pada tempat
desain tersebut dibutuhkan dan digunakan.

6. Kegunaan (use)

Merupakan fungsi praktis dari sebuah
desain. Dalam mewujudkan fungsi ‘guna’
yang baik tentunya seorang desainer
harus mempertimbangkan siapa yang
akan menggunakannya (user) dan obyek
dari kegunaan desain tersebut. Maka perlu
pemahaman tentang ergonomi yaitu ilmu
tentang hubungan antara manusia, mesin
yang digunakan dan lingkungan kerjanya.
Arah desain yang jelas akan menghasilkan
pendekatan dan metode rancangan yang tajam,
efisien dan efektif. Setelah mengetahui keenam
tata kelola desain dari Victor Papanek, akan hadir
sebuah ruang yang menjadi batas antara abstrak
dan realisasi yaitu sebuah ‘jeda’. Jeda yang berada
di antara metode dan lahirnya sebuah desain yang
dimaksud adalah kreatifitas. Kreatifitas tidak akan
terwujud tanpa adanya wawasan dan pengetahuan
serta penyatuan tentang techne (teknik) dan
episteme (pengetahuan). Jika digambarkan dalam
skema, dapat disimpulkan sebagai berikut:
inovasi-wirausaha.blogspot.co.id - Prinsip Pengolahan Limbah Organik

Berdasarkan skema tentang proses sebuah desain
hingga membawa manfaat terhadap manusia dapat
disimpulkan bahwa desain sangat penting dalam
kehidupan. Perancangan sebuah produk harus dilakukan
secara terus menerus dengan melakukan upaya
penciptaan dan pembaharuan berdasarkan analisa dan
uji produk baik secara mandiri maupun berdasarkan
pasar. Analisa produk mengarah pada dua muara
yaitu keberhasilan dan kegagalan dari sebuah desain.
Oleh sebab itu sebagai desainer atau perancang
produk harus mengetahui resiko yang dihadapi dalam
setiap usahanya. Pasang surut dalam wirausaha juga
merupakan resiko yang harus ditanggung sebagai
pengelola usaha yang sekaligus juga sebagai desainer.
Prinsipnya adalah semangat berusaha, jujur, pantang
menyerah, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab
merupakan modal dasar dari seorang perancang produk.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel